The Man Who Can't Get Conclusion or Just Can't Handle It
The Man Who Can't Get Conclusion
Or
Just Can't Handle It?
Kalimat: Kamu Pasti Bisa itu klise. Nyatanya nggak semudah itu.
It has been 6 years ago sosok Aku pernah memiliki seorang panutan yang berharga selain orang tuanya. Begitu kokoh rasa percaya dirinya yang terbentuk olehnya. Semua berjalan lancar, ketika terdapat kesalahan sedikit semua dapat teratasi berkat tutur yang tegas darinya. Aku menikmati hidup kala itu. Dia menjadi kokoh nan menjulang tinggi hingga tak sadar setelah di tahun kedua, dia mendapat kabar bahwa pada akhirnya dia akan pergi. Betapa berat untuk melepaskan karena dia ditugaskan untuk pengabdian. Perlahan demi perlahan Aku mulai goyah. Aku terombang-ambing pada saat itu, seakan hidup segan mati pun tak mau. Tak mungkin pahlawan itu akan kembali, kabarnya pun selepasnya akan mengalami karantina. Sungguh pilu. Kemudian Aku mencari sosok pengganti tetapi tak ada satupun yang menyerupainya. Berkali-kali mencoba namun tidak ada hasil. "Bagaimana ini?". Aku terduduk lemas dan merasakan ada yang menjalar di hatinya; Hampa. Perasaan ini... Perasaan yang sempat lepas kini menampakkan diri. "Ini hanya sementara." Ucapnya. Berusaha semaksimal mungkin untuk menguatkan hatinya agar baik-baik saja. Nyatanya jalaran itu sudah semakin rapat menyelimuti hatinya hingga membuatnya sesak. Tiap kali ingat peristiwa itu, rasa sesak pun muncul dan perlahan ingin menangis. Naasnya Aku tidak bisa menangis sekencang yang dia bisa. Dia hanya mampu menahannya. Meronta dan memberontak dalam diam. Tak bisa dipungkiri perasaan itu masih sama hingga sekarang. Hal ini mengunci hatinya dan berdalih tidak ada satupun orang yang sama seperti dia. Takut memulai kembali untuk menemukan seorang panutan. Takut memulai kembali perjalanan untuk membangun kokohnya kembali. Takut sewaktu-waktu akan roboh karena tidak terawasi dengan baik. Bahwa sejatinya Aku itu bukan orang multitalent. Sosok Aku hanyalah Aku. Aku hanya bimbang dalam menentukan arah bagaimana Aku akan memulainya kembali. Walaupun di sekelilingnya terdapat banyak orang yang selalu memberikan komentar positif, but come on, aku tahu ada kekuatan dibalik sekedar; The Power of Words. Enggak semudah itu.








Tidak ada komentar: