Shadow in Love
Courtesy on YouTube: Austin Mahone - Shadow
Shadow in Love
Hai, bagaimana kabarmu?
Kamu... baik-baik saja bukan?
Kau tahu tidak? Mulutku selalu berkomat-kamit lho agar tidak pingsan ketika berpapasan denganmu.
Terlebih sebuah pencapaian yang sangat besar ketika mewakili sekolah untuk mengikuti sebuah seminar denganmu. Ya, denganmu. Walaupun hanya seminar, aku sangat senang. Aku bisa dengan leluasanya memandangimu.
Aku ingat betul senyummu.
Aku ingat betul bagaimana balasan pesan singkatmu. Ingat tidak, kau pernah mengirim pesan ini:
Ya? dengan siapa ini?
Disaat itu juga, aku tidak berani mengaku bahwa pesan itu adalah dariku yang hanya sekadar berkata "Assalamu'alaikum Brian."Ya memang, kala itu aku sangat penakut.
Aku juga selalu menanti-nanti perihal kamu yang sering melintasi di depan ruang kelasku. Ya, walaupun hanya sebatas lewat saja, aku selalu menantikan itu. Mataku dengan seksama mengikuti arahmu berjalan sampai hadirmu menghilang dalam tikungan lorong. Aku menghembuskan napas seraya berkata, "semoga besok lewat lagi, ya."
Bahkan sialnya, aku pernah melewatkan momen itu. Itu terjadi karena aku sedang lengah tak mengawasi keadaan di luar kelas. Akan tetapi, tidak menjadi masalah buatku, yang terpenting melihat bayangmu sudah cukup bagiku. Di pikiranku, bayangmu sudah merefleksikan dirimu yang sebenarnya. Haha canggih bukan? Canggihnya melebihi sinar LCD yang menyorot ke proyektor.
Sebegitukah diriku terhadapmu? Aku sempat berpikir, apakah rasa ini adalah rasa cinta, suka, atau sekadar antusias karena terpukau karena kehebatanmu?
To be continued. . . .
_____________________________________+__________________________________________
Teruntuk kalian yang selalu gundah tentangnya dan tak sempat menyatakan sepatah kata terhadapnya. Tidak usah khawatir. Sepatah kata darimu mungkin saja tidak ditujukan kepada dia. Melainkan ada seseorang yang lebih layak daripada dia.







Tidak ada komentar: