Laksana Perangai
greanteaxx
Pernah berpikir bahwa tak perlu menuangkan sesuatu melalui lisan, hanya tulisan yang berbicara.
Toh, semua yang dikatakan tak berarti.
Setiap penuturannya tiadalah runtut, pun tak seelok burung berkicau nan merdu.
Naasnya hanya segelintir yang mengerti.
Hingga tak ada yang menyautinya.
Hanya jangkrik yang bersudikan.
Ia lelah.
Gejolak hati selalu bersua.
Namun tak kunjung jua bersua.
Tak kuasa ia menggaruk.
Akan tetapi gatal tak terasa, perih menggerogoti.
Sesak.
Menghela ia menjadi.
Meracau ia menjadi.
Apalah menulis bila ia meyakini apa yang ditulisnya akan menjadi nyata.
Tak mau ia menulis hal-hal buruk.
Manipulasi pikiran.
Ia tahu.
Tapi tetap mengikutinya.
Petunjuk apa yang diyakininya benar.
Tetap ia akan ikuti.
Sejatinya menulis bukanlah perihal harapan yang diraih menjadi nyata.
Akan tetapi, penuangan apa yang terjadi hari ini adalah penentuan untuk menentukan pilihan harapan.
Kau tahu?
Tak ada salahnya menerima apa yang telah kau perbuat.
Penerimaan kau yang begitu buruk di masa lampau.
Akuilah.
Terimalah.
Tidak apa-apa kau tak bisa bersua.
Kelak kau bersua dengan dirimu dan laksana perangai.
Kau hanya perlu memilah.
Tembalang, di Penghujung bulan Agustus 2019
Ia yang merenung sembari rebahan.







Tidak ada komentar: